Monday, 14 May 2012

rasa bahagia itu

dan
rasa bahagia itu,
bukan kerana kita, 

tapi dari ALLAH.

dan kita tak akan mampu memberikan segala-galanya.

yang Memberi itu ALLAH.
kita hanya medium pengantara.

bila masanya tiba,
maka jangan takut.
jangan membiar kerisauan tentang kebahagiaan, kesempurnaan dan masa hadapan,

mengaburkan dan memudarkan hasrat kamu.


bahagia, rezeki, masa hadapan,
itu semua milik ALLAH.

maka, bila sedia dan percaya,

selamat melangkah ke arah itu.
 
sumber : penyejuk mata

Monday, 23 January 2012

Dia ada suami soleh, saya ada teman solehah

Kisah ini saya kongsikan bukan untuk menunjuk-nunjuk betapa baiknya diri saya. Anda yang mengenali diri saya di luar lebih tahu saya ini manusia yang bagaimana.
Cuma.
Kisah ini buat saya terfikir betapa pentingnya bergaul dengan orang-orang yang soleh dalam hidup kita.
Kerana kesolehan mereka bagaikan sumbangan cas untuk iman kita supaya terpengaruh baik seperti mereka juga. Walaupun kita buruk. Walaupun kita jahat. Walaupun kita tidaklah sebaik mana.

November 2011.
Waktu itu, ada Program Qiamullail di universiti. Semasa duduk makan-makan dalam bulatan selepas waktu Subuh, kami bertaaruf sesama sendiri. Walaupun satu universiti, bukan semua orang kita tahu dan kenal. 

Antara ramai-ramai akhawat, saya tertarik hati untuk beramah mesra dengan seseorang yang duduk berhadapan dengan saya. Orangnya murah dengan senyuman. Berwajah lembut. Seperti melihat Nur di wajahnya.

Saya: Sis tinggal di Mahallah mana?
Dia: Saya duduk luar. Tidak tinggal di sini.
Saya: Jadi, datang dengan siapa?
Dia: Dengan suami.
Saya: Eh, sudah berkahwin ke?
Dia: Sudah. Baru juga. Rezeki murah. Sekarang sedang mengandung dua bulan anak yang pertama.
Saya: Alhamdulillah. Tahniah. Muda-muda sudah bernikah. Sejuk hati saya.

Perasaan saya berbunga-bunga. Rasa teruja mengetahui ada pasangan suami isteri yang memanjangkan cinta mereka di rumah Allah. Sudut hati yang paling dalam. Ada rasa cemburu. Entahkan berpeluang atau tidak, saya ini dikejutkan suami untuk sama-sama bersolat malam di masjid.

Melihat dia yang lemah lembut, terdidik, dan bersopan-santun saya dapat membayangkan perwatakan suaminya bagaimana. Pastinya, seorang lelaki hebat. Jodoh yang Allah berikan untuk kita selalunya tidak lari jauh daripada sikap dan perangai kita juga. 

Mereka berdua pastinya sekepala. Sama-sama cintakan Allah melebihi dinginnya malam bermalasan di katil. Kalau tidak masakan mereka suami isteri sanggup bersusah payah datang daripada luar melakukan Qiamullail di masjid ini.

This is sweet. Seriously, bertuahnya dia. Pada saat Tanah Melayu kekurangan lelaki-lelaki gagah,dia sudah ada seseorang yang membawanya jalan menuju rumah Allah. 

Saat diulit cemburu, saya kembali teringat bagaimana kaki saya ini boleh terikat ke tempat ini. Saya kembali tersedar, saya juga bertuah. Masakan tidak. Kerana sejujurnya, saya bukan ahli tegar yang duduk solat di masjid sepenuh waktu. Tidak!

Di atas merupakan pengalaman pertama Subuh di masjid sepanjang saya bergelar sisiwi di universiti ini. Itupun selepas diajak oleh seorang kawan yang solehah. Sudah saya katakan berulang kali, saya bukanlah seorang yang baik maksum. Saya juga pendosa. Banyak khilafnya. Namun, saya bersyukur kerana dikelilingi manusia-manusia baik yang selalu mengingatkan saya pada fitrah beragama dan kenal Pencipta.

Jikalau perempuan tadi mempunyai sorang suami soleh yang mempengaruhinya untuk pergi ke rumah Allah, saya tetap bersyukur sekurang-kurangnya Allah memberikan saya rezeki teman karib yang solehah yang selalu berusaha mengajak saya mendekati dan mencintai masjid.
Juga.

Seandainya iman saya turun, kosong dan lemah, Allah hantarkan dia untuk saya kembali ingat pada-Nya. 

This is sweet too. Alhamdulillah, bertuahnya saya ada seorang sahabat macam dia. Pada saat Tanah Melayu kekurangan sahabat-sahabat yang sudi mengingatkan kita ketika alpa, saya sudah ada seseorang yang sudi menunjukkan saya jalan menuju rumah Allah.
Saya belajar satu perkara.

Kadang-kadang kita terlalu imaginastik mahu mencari seorang lelaki yang soleh untuk dibuat suami supaya hidup kita bahagia di dunia dan akhirat tetapi kita jarang sekali mengingatkan diri kita untuk berusaha mencari sekurang-kurangnya seorang kawan yang solehah supaya kita juga mendapat kebahagiaan yang sama.

Kadang-kadang kita selalu berangan-angan mahu ditemukan lelaki soleh supaya kita dapat berpimpin tangan menuju redha Allah bersama-sama padahal kita tidak berusaha mendampingkan diri mencari sahabat yang solehah yang boleh mengingatkan kita waktu solat, jom puasa sunat, ataupun mari baca Ma'thurat.

Bukankah sahabat yang baik juga adalah pembuka jalan untuk kita menjadi yang baik dan permulaan cerita untuk kita mendapat yang terbaik juga?

Bukankah seorang isteri yang baik pada masa hadapan bermula dengan menjadi sahabat yang baik juga pada masa sekarang?

Hmm. Jawab sambil melepaskan satu nafas panjang. Panjang dan berat.

P/S: Mahu menjadi baik adalah satu proses yang berterusan dan tidak berhenti. Tiada titik akhir selagi kita belum mati.

http://fatinzuaini.blogspot.com/2012/01/dia-ada-suami-soleh-saya-ada-teman.html

Wednesday, 7 December 2011

Meniti Kasih: How to memorize the Quran

Meniti Kasih: How to memorize the Quran:

I am fascinated with such an amazing website. A guy dedicates himself to teach others Quranic Arabic to master and understand Quran for FREE. He gives so many tips, shares it on his blog and hoping that he could achieve his goal this year that 1000 muslims can learned Quranic Arabic.

But this time I wanted to share tips he wrotes on the blog about how to memorize quran easily. For students, this is really helpful. For those who has joined the workforce, we could still find our ways to follow the tips well.

This hifz technique was taught by the Algerian Shaykh Zakariya al-Siddiqi who teaches at the Institute of Human Sciences in France and is one of the foremost scholars of Quran today.

He memorised it by the age of 9 and dedicated his life to studying and teaching it, and he once told us the story of one of his friends. His friend was an engineering student, who was a ’Fresher’ about to embark on a 5 year degree. Let’s call him Ahmed…

Ahmed was an intelligent student who followed one of the oft-forgotten Sunnah’s of Success…

Quran Memorization Tip 1: Wake Up Early

He woke up earlier than most people. In fact, he woke up on time to get to the Mosque to pray Fajr every day. When he got home from the mosque, instead of busying himself with the internet or watching television, he spent the first few minutes of each day memorising the Quran.

Quran Memorization Tip 2: Each Day Memorise Less Than You Think You Can

Ahmed made a firm commitment to memorise the Quran, but instead of rushing in and trying to memorise one or two pages each day (like his friends who gave up before long), he confined himself to learning 5 lines per day.

This worked out to be about 20-30 minutes per day for him.

Quran Memorization Tip 3: Get Familiar First

In order to overcome the initial unfamiliarity with the new verses, he spent the first few minutes each day actually writing out the 5 lines of that day onto a small sheet of paper.

He spent the next few minutes reciting them over and over, and then attempted to memorise them.

Quran Memorization Tip 4: Keep Today’s Verses Close At Hand

As Ahmed went about his day, he often found that he had a few chunks of time – several minutes each. During these times, such as waiting for the bus, or waiting for a teacher to turn up to a class, Ahmed would try to remember the 5 lines from that morning.

To aid his memory, he kept the sheet that he wrote out that morning folded in his pocket, and would pull it out if he was struggling.

Quran Memorization Tip 5: Use What You Memorise In Every Single Salah

To further support his memory, every prayer he prayed that day, he would recite the same 5 verses of Quran that he learned that morning. In each aka’, he would alternate between the 5 lines from that day, and the 5-10 lines he learned the previous days. And remember…

Quran Memorization Tip 6: Keep Track Of Your Goal

With the Uthmani script of the Quran, there are exactly 15 lines per page. So, by the end of the week, Ahmed had not only memorised 2 whole pages of the Quran, but he had written them out in full, too… a very blessed act if ever there was one.

Quran Memorization Tip 7: Perfect Your Tajweed As You Go

On the weekend, Ahmed would visit a local scholar of Quran recitation, and would revise with him the 2 pages he had just memorised, and have a go at the 2 pages he would be working on the following week. This way, he was certain to learn the Quran with accurate tajweed and beautiful recitation.

There was one other secret to Ahmed’s success.

The Spiritual Secrets Of Successful Memorisation…

Once a week, on a weekend evening (usually on a Friday night), Ahmed would wake up in the middle of the night, and pray Tahajjud. During his special Tahajjud prayer, Ahmed would recite the whole two pages he had learned that week, and consolidate them.

At this point, the Shaykh mentioned that perhaps one of the reasons so few people manage to wake up and do this special prayer, which is highly recommended by the Quran and by our beloved Prophet (saw), is that we don’t have anything to recite.

We have so little Quran memorised that there’s no fun or enjoyment in the challenge of waking up for Tahajjud, and we often find even the fard prayers a ’chore’ instead of a pleasure.

The Results…

You can imagine Ahmed’s excitement and feeling of achievement and success 3 months after he started, when he had memorised the entire 1st Juz!

It’s not just the feeling of success and empowerment that the Quran gave him, but also the deep connection with Allah (SWT) he felt every single day.

You can only imagine how proud he must have felt of himself, when upon graduation Ahmed not only received a 1st class degree in engineering (he was 3rd in his class), but he had also officially memorised the entire Quran. He was a hafidh.

Shaykh Zakariya pointed out a final lesson from this blessed brother.

The biggest achievement he made was not to memorise the Quran. The biggest achievement he made was to be deeply connected with the Quran every single day for 5 years.

That connection with Allah (SWT) is what made Ahmed so special. That deep link with the Creator is what keeps life in perspective and is what helped Ahmed to keep on track with the little weekly targets he set for himself.

One can only imagine what happened to Ahmed’s levels of personal fulfilment, Iman and taqwa, as he went back every single day to develop this ritual of ihsan (spiritual excellence). Each day he woke up for Fajr and wrote out another 5 lines of Quran, his self-esteem and self-confidence soared…

“Can the reward for excellence be anything other than excellence?” Surah Rahman (55: 60)

Wednesday, 24 August 2011

Apabila udara jahiliyyah ..


Bila udara jahiliyyah biasa kita hirup…

Kita melihat hari ini pelbagai masalah melanda manusia. Ramai yang menyuarakan kerisauan atas sikap dan keadaan pemuda pemudi, tidak kurang juga yang memperkatakan perihal peningkatan jenayah yang menggusarkan pada hari ini, malah ada juga yang menyuarakan ketidak senangan melihat pergolakan demi pergolakan yang berlaku sekarang.
Semua bergerak dalam satu dunia. Itulahdunia yang kita duduki. Semua berkongsi satu udara. Itulah udara yang kita hirupi. Dan hari ini, udara yang kita hirup sudah tercemar dengan jahiliyyah. Jahiliyyah inilah yang merosakkan hati manusia sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit, sehingga tiada lagi di hatinya rasa keadilan, rasa hendak kembali mengasah keimanan, rasa hendak berbuat kebaikan dan sebagainya.
Perasan atau tidak, apabila saban hari kita ditubi dengan berita-berita kerosakan dan keruntuhan suasana dunia hari ini, setelah hari demi hari berlalu kita menghirup dalam udara yang tercemar ini, kita akan melihat keadaan ini sebagai biasa.

Bila melihat dua pasangan bercengkerama di taman rekreasi, hati kita tidak timbul rasa benci, yang timbul adalah,
“ Biasalah tu…”
Bila kita melihat adegan seks dalam cerita hollywood, kita tidak bertindak pantas membencinya, tetapi kita akan kata,
“ Alah, biasalah ni, hollywood”
Apatah lagi bila kita melihat perempuan yang berbaju ketat, lelaki yang bersubang, perokok, peminum arak, penagih dadah, pengorat perempuan jalanan, rasuah, taktik keji dan 1001 macam lagi kerosakan yang biasa kita dengari, dan sudah mali di dalam masyarakat.
Kita akan kata, “ Biasalah itu…”
Kata-kata ini tanda sensitiviti hati kita telah terhakis dek udara yang tercemar. Kalau di dalam sains kita ada belajar teori luluhawa, maka suasana hari ini adalah satu luluhawa, yang merosakkan hati kita secara senyap, dalam satu jangka masa yang lama.
Saat inilah kita perlu bangkit, jika karat pagar kita hilangkan dengan kertas pasir, kemudian kita cat semula menjadi cantik, maka karat di hati kita akibat udara jahiliyyah ini perlu kita kikis dengan Al-Quran dan mengingati pertemuan dengan ALLAH, seterusnya kita cat, hiaskan dengan cantik menggunakan akhlak rabbani dari sunnah Rasulullah. Sabda baginda,
“ Hati itu akan berkarat sebagaimana karatnya besi, sahabat-sahabat pun bertanya, maka apakah cara untuk memulihkannya? Rasulullah SAW menjawab, membaca Al-Quran dan mengingati mati”
Kerosakan hati tidak akan membawa kepada kebaikan. Kerosakan hati hanya membawa kepada kecelakaan.
Kita sorot kembali kegemilangan ISLAM. Siapakah yang menerajui hari-hari kegemilangan ISLAM? Siapakah yang merintis kegemilangan ISLAM? Bukankah Rasulullah dan para sahabat assabiquunal Awwaluun? Bukankah manusia-manusia yang bersih hatinya seperti Umar Abdul Aziz?
Kita lihat pula bagaimana kegemilangan ini runtuh. Bilakah kegemilangan ini runtuh? Apabila hati-hati manusia sudah lupa kepada ALLAH, dan meninggalkan segala ajaranNya, apabila hati-hati sudah kotor dan melupakan keutamaan sistemNya, apabila hati-hati sudah tercedera, dan melupakan segala tunjuk ajar utusanNya. Ya, ketika hati ummah rosak, dan ketika itulah ummah gemilang ini jatuh terungkur di bawah tikaman kehinaan.
Hari ini apa yang tinggal untuk ummat ISLAM? Hanya masjid-masjid yang menjadi museum tarikan pelancong, hanya negara-negara yang tiada kekuatan untuk bersatu. Hanya bilangan yang ramai tetapi ibarat buih yang hancur bila dijentik. Sabda baginda,
“ Satu hari nanti, kamu akan dikerumuni oleh musuh-musuh kamu sebagaimana orang lapar menggerumuni makanan. Sahabat-sahabat bertanya, Apakah kami sedikit ketika itu ya Rasulullah? Tidak, bahkan kamu ramai. Tetapi kamu ibarat buih di lautan. Kerana kamu sudah terkena penyakit WAHN. Sahabat bertanya lagi, Apakah WAHN itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, Cinta dunia dan takut mati”
Bila hati sudah rosak, maka tiada lagi sensitiviti dan kepekaan dalam melaksanakan ajaran ALLAH. Jangan kata hendak bangunkan negara ISLAM, jangan kata hendak menjalankan hukum hakam ALLAH dalam negara, sedangkan hati itu tidak kita kembalikan kepada ALLAH dalam keadaan sempurna.
Hendak cemerlang? Hendak menjadi yang terhebat? Maka tundukkanlah hati kepada ALLAH. ALLAH lah pemilik segala kehebatan, dan DIA sahajalah yang mampu memberikan kehebatan itu kepada kita.
Mari, jika dalam keadaan pencemaran udara hari ini kita lakukan projek rumah hijau untuk menjaga tanaman, tumbuhan dari terus pupus, sekaligus menjadi sumber O2 kita, maka kita sepatutnya pergi mencari satu proses yang boleh kita jadikan sebagai ‘rumah hijau’ kita. Di dalam ‘rumah hijau’, udaranya berbeza dari udara yang telah tercemar. Udaranya segar, khas untuk pembenihan, pertumbuhan, dan pengeluaran manusia-manusia yang mempunyai hati yang sensitif, sekaligus menjad ‘O2’ yang menghidupkan ummah. Kita menjadi apa yang Sheikh Mustapha Masyur katakan,
“ Perbaiki diri kamu, dan ajak orang lain”
Kita sepatutnya membina ‘rumah-rumah hijau’ ini dalam kehidupan kita.
Dan sebenarnya ‘rumah-rumah hijau’ ini ada dan wujud jika kita benar-benar mencarinya.
Dalam serabut kemasyarakatan, dalam keadaan hati yang sudah semakin ditumpulkan, kita mencari jalan untuk kembali membangunkan hukum-hukum ALLAH dalam hati dan jiwa kita. Jika tidak mahu berfikir fasal ummah, tidak mengapa. Tetapi fikirlah fasal diri sendiri. ALLAH menanti kita di akhirat nanti untuk bertanya apakah yang telah kita lakukan dengan nyawa, ruh dan jasad yang telah dipinjamkanNya kepada kita. Siapakah yang selamat pada hari perhitungan itu? ALLAH berfirman,
“ Hari yang tidak berguna harta dan anak pina, kecuali mereka yang datang kepada ALLAH dengan hati yang sempurna”
Wahai manusia, wahai diri saya, takutlah kita kepada ALLAH, asahlah kembali hati-hati kita, dan marilah kita kembali kepadaNya dengan hati yang segar dan sempurna.
sedut dari sini